kazenouta: (eugeo)
[personal profile] kazenouta
The Wind Which Sings of Freedom
Prologue

. . .

Kau tahu, aku tidak begitu peduli soal hal itu. Kebebasan bukanlah sesuatu yang kau dapatkan, melainkan sesuatu yang kau ambil.

. . .

Caelum - itulah nama yang diberikan untuk sebuah dunia yang dibuat oleh 3 Dewa, tersebutlah Dewa Helios, Dewi Sylph, dan Dewa Nair. Ini bukan urusan kalian, tapi, bukankah kalian bertanya-tanya mengapa Helios, Sylph, dan Nair membuat dunia tersebut? Lahirnya Caelum hanya didasari satu: rasa jemu. Terdengar seperti lelucon dan sulit untuk dipercaya? Bukan hanya kau yang berpikir seperti itu.

Caelum adalah sebuah dunia yang amat luas dan indah. Caelum terletak jauh di sudut galaksi, dimana manusia, Dura (naga), dan satu ras lainnya - Dialos, hidup dengan damai. Namun, kedamaian di dunia Caelum tak berlangsung lama. Kiranya 1 abad setelah dunia Caelum terbentuk, terjadi sebuah peristiwa bersejarah dalam histori Caelum – Great War of Sphere.

Great War of Sphere, atau lebih dikenal sebagai Tragedi Sperikal Caelum, adalah sebuah perang berskala besar yang melibatkan ras Dialos dan manusia. Tragedi Sperikal Caelum terjadi 687 tahun yang lalu, tepatnya pada 128 CC (Caelum Calendar). Perang besar ini telah menimbulkan banyak kerugian yang tak terhitung jumlahnya dan berbagai perubahan era di Caelum. Perang ini berlangsung selama berabad-abad lamanya, tak mengenal kata ‘berhenti’.

Perang ini bermula pada 128 CC. Saat itu, ras Dialos memutus tali persaudaraan mereka dengan ras manusia, entah motif apa yang mereka miliki sesungguhnya untuk mengibarkan bendera perang pada ras manusia. Kendatipun demikian, ras Dialos tak memutus tali perdamaian mereka dengan ras Dura, yang masih menjadi sebuah misteri bahkan hingga saat ini. 3 Dewa pada saat itu berusaha untuk memisahkan kedua ras tersebut - sayangnya, kekuatan mereka berhasil tersegel sementara oleh seorang penyihir legendaris dari kubu Dialos. Ironis, bukan?

Helios pada saat itu agak ragu untuk mengambil keputusan, namun dia dan 2 Dewa lainnya akhirnya sepakat untuk hanya mengobservasi roda takdir yang berputar mengikat Caelum dan takdir dari kedua ras tersebut. Mereka memilih untuk tidak berbuat apa pun, sekalipun terbebas dari segel si penyihir. Walaupun begitu, sesungguhnya 3 Dewa berada di pihak ras manusia, karena itulah manusia masih setia memuja mereka dan selalu berharap akan pertolongan dari sang Dewa. Manusia adalah makhluk paling sempurna dan berakal yang mereka datangkan ke Caelum, dan 3 Dewa mengharapkan tak lebih dari sebuah kedamaian di dunia yang mereka ciptakan. Manusia sebagai pemimpin, Dialos sebagai penyokong, Dura sebagai pengawas, dan Dewa sebagai pelindung; seperti itulah dasar pikiran yang seharusnya tercipta di langit Caelum. Sekalipun begitu, dasar pikiran tersebut berkontradiksi dengan apa yang terjadi di tanah Caelum.

Saat perang besar ini terjadi, ras Dura yang tak ingin ikut campur dengan urusan antara ras Dialos dengan ras manusia, memutuskan untuk memisahkan diri dari perang tersebut. Di kawasan Gunung Eldur mereka tinggal, yang sampai kurun waktu beratus-ratus tahun kemudian, bahkan saat ini, masih menjadi tempat tinggal abadi bagi ras Dura.

Pemimpin Caelum terus berganti, namun suasana perang tetap tak terganti. Manusia terus berjuang demi kebebasan yang mereka impikan. Jumlah nyawa yang melayang dari kedua kubu tak lagi pernah dipermasalahkan, mereka hanya terus berusaha meraih kemenangan.

401 CC, Raja Caelum yang memimpin pada saat itu, Raja Kyle, adalah seorang manusia. Beliau ikut terjun ke medan perang bersama 4 sahabatnya - Kapten Easton, Lady Vienta, Charlotte, dan Jenderal Jared. Seluruh ras manusia tak tinggal diam, mengerahkan seluruh tenaga dan jiwa mereka, berkorban untuk dunia Caelum. Setelah 24 tahun terus berperang di atas nama ras manusia, pada 425 CC, 'kebebasan' pun akhirnya tercapai. Raja Kyle dan para sahabatnya berhasil menyegel kekuatan si penyihir legendaris Dialos yang merupakan otak dari ras Dialos, dan mengembalikan keseimbangan dunia. Akan tetapi, setelah penyihir tersebut tersegel, menurut rumor yang beredar di Caelum, beliau, para sahabatnya, dan beberapa pahlawan lainnya - menghilang tanpa jejak, dengan Raja Kyle meninggalkan takhta kepemimpinan pada keturunan kerajaan yang berikutnya. Siklus tersebut terus terulang selama beberapa abad. Tak ada yang tahu kenyataan dibalik misteri hilangnya Raja Kyle dan antek-anteknya.

Kebebasan yang Raja Kyle beserta antek-anteknya raih hanyalah kebebasan semu, karena sesungguhnya perang antara manusia dan Dialos tak pernah usai. Namun, hal tersebut adalah sebuah anugerah yang lebih dari cukup untuk ras manusia. Di luar 5 kota besar Caelum yang mencakup ibu kota Lucfia, kota salju Sys, kota peri Lunaris, kota pedang Slait, dan kota angin Wingston, Dialos telah menginvasi jika bukan sebagian besar area, seluruh area di Caelum.

Pertanyaan demi pertanyaan terus tumbuh mengenai banyak hal yang terjadi dalam Tragedi Sperikal Caelum, bahkan tentang perang itu sendiri. Tetapi, hingga saat ini, kenyataan tersebut kiranya masih sebuah misteri yang terus tenggelam hingga bagian dasar neraka terdalam, tak membuahkan satu pun jawaban.

Tahun 815, anak kembar muda bernama Oliver Alistair dan Alice Alistair hidup di sebuah era dimana 'kebebasan' sudah tercapai. Mereka tak pernah pergi ke luar kota, sekalipun inginnya melihat dunia di luar sana. “Ada banyak Dialos di luar sana, kalian akan mati!”, “Lebih baik cari aman saja, bukan?”, adalah yang selalu terlontar dari mulut orang-orang di sekitar mereka. Ada sebuah petitih, Ketidaktahuan adalah kebahagiaan.

Pada 815 CC pula, sebuah tekad kuat mendorong dua orang bocah usia 13 tahun tersebut demi kebebasan yang sesungguhnya. Pertemuan dengan beberapa orang dengan tekad yang sama mengirim mereka untuk berhadapan oleh rentetan peristiwa yang jauh melampaui apa yang mereka bayangkan.

Oliver, Alice.

Mereka mendambakan kebebasan.
Kebebasan yang sesungguhnya,
kebebasan yang bukan hanya sebuah bayangan semu di luar Lucfia, Sys, Lunaris, Slait, dan Wingston.

Baiklah, ayo berangkat. Untuk kebebasan? Untuk kebebasan.